BIJAK MENGENDALIKAN DIRI

Bijak Mengendalikan Diri Tanggung Jawab

(Jumat, 30 Oktober 2026)

Bacaan Alkitab (TB2):
Titus 2:11-15 

“Sebab, sudah nyatalah anugerah Allah yang menyelamatkan semua manusia dan mendidik kita supaya meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan saleh di dalam dunia sekarang ini.”
(TB2, Titus 2:11-12)

Suatu hari, Soni merasa kesal karena teman sekelompoknya tidak menyelesaikan tugas sesuai kesepakatan. Dikuasai amarah, Soni melontarkan kata-kata kotor, menyalahkan temannya itu, bahkan menghina orangtuanya di hadapan yang lain. Beberapa murid tertawa dan ikut menimpali, sehingga penghinaan dianggap sebagai candaan biasa dalam pergaulan. Ketika ditegur, Soni justru membentak karena merasa berhak marah dan tidak mau disalahkan. Namun, setelah melihat temannya itu sangat terluka dengan perlakuan dan perkataannya, Soni baru menyadari kesalahannya. Segera sesudah itu, Soni meminta maaf kepada temannya dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

Rasul Paulus menjelaskan bahwa anugerah Allah bukan hanya menyelamatkan, melainkan juga mendidik manusia meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi. Meninggalkan kefasikan berarti menolak perilaku yang bertentangan dengan kehendak Allah, seperti: memaki, menghina, dan merendahkan martabat sesama. Meninggalkan keinginan duniawi berarti tidak membiarkan diri dikuasai oleh ego, amarah, dendam, dan hal-hal buruk lainnya. Karena itu, Paulus mengajak kita hidup bijaksana, adil, dan saleh, sehingga iman kita nyata melalui kemampuan mengendalikan perkataan, emosi, dan tindakan. Allah mendidik kita bukan sekadar menahan diri dari hal-hal buruk, melainkan meninggalkan semua itu dan hidup dalam karakter seperti Kristus.

Seperti Soni, kita perlu berani mengakui kesalahan, meminta maaf dengan tulus, dan memperbaiki hubungan melalui tindakan nyata. Ketika marah, berhentilah sejenak sebelum berbicara, terutama saat muncul dorongan melontarkan makian atau menghina orang lain. Jangan menjadikan tekanan teman sebaya sebagai alasan untuk ikut mengejek, menertawakan penghinaan, atau membenarkan perilaku yang menyakiti sesama. Pilihlah perkataan yang menghormati, sikap yang bertanggung jawab, dan tindakan yang membangun kedamaian dalam komunitas. Bijak mengendalikan diri berarti berani meninggalkan perilaku yang tidak berkenan kepada Allah dan memilih tindakan yang memuliakan-Nya. –-ss

POKOK DOA 

Ya Allah, terima kasih atas anugerah-Mu yang mendidik kami menjadi pribadi yang bijak. Tolonglah kami mengendalikan amarah, menjaga perkataan, dan menghormati sesama. Mampukan kami meninggalkan perilaku buruk dan membangun komunitas yang penuh kasih. Dalam Kristus, kami berdoa. Amin.

Hanya Hari Ini! GRATIS!

Dapatkan Informasi List Uang Sekolah (SPP)

Tahun Pelajaran 2027 / 2028 
Dapatkan pemberitahuan tentang artikel baru.