Anak merasa aman di sekolah bukan berarti ia tidak pernah berkonflik, melakukan kesalahan, atau mengalami hari yang sulit. Justru, rasa aman terlihat ketika anak berani menjadi dirinya sendiri, menceritakan perasaannya, mencari bantuan, dan memperbaiki hubungan setelah masalah terjadi.
Baca juga: Pengendalian Diri Siswa TIRTAMARTA dalam 3 Langkah Bijak
Karena itu, sebelum menilai sekolah hanya dari fasilitas, nilai, atau prestasi, orang tua perlu bertanya: Apakah anak saya merasa diterima, didengar, dan tahu kepada siapa ia dapat meminta pertolongan?
Pertanyaan ini selaras dengan tema Hari Anak Nasional ke-42 tahun 2026, “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan.” Kemen PPPA mengajak berbagai pihak menghadirkan ruang aman. Sementara itu, UNICEF menempatkan sekolah yang aman, ramah, dan inklusif sebagai bagian penting pendidikan bermutu.
Baca juga: Cara Menumbuhkan Iman Anak: 7 Kebiasaan yang Membekas

Mengapa Anak Merasa Aman di Sekolah Itu Penting?
Di sekolah, anak juga belajar menghadapi perbedaan, menerima koreksi, dan menyelesaikan konflik. Jadi, rasa aman bukan berarti “sekolah tanpa masalah”. Rasa itu tumbuh ketika teman menerima, guru mendengarkan, dan persoalan mendapat tindak lanjut. Berikut tujuh tandanya.
1. Anak Berani Menceritakan Perasaannya
Pertama, anak dapat berbagi kegembiraan sekaligus mengakui rasa sedih, bingung, atau bersalah. Tobias, siswa kelas VIA SDK TIRTAMARTA BPK PENABUR, merasa diterima oleh teman dan guru.
“Saya bisa mempunyai banyak teman dan diterima oleh teman-teman. Selain itu, guru-guru mengajar dengan sabar dan mudah dipahami sehingga saya nyaman belajar di sekolah.”
Baca juga: Cara Mendengarkan Anak Remaja: 7 Kebutuhan Penting
2. Anak Memiliki Orang Dewasa yang Ia Percaya
Kedua, anak memiliki orang dewasa di sekolah yang mau mendengarkan. Bu Dahlia, guru BK SMPK TIRTAMARTA BPK PENABUR, melihat rasa percaya dari keberanian siswa menyampaikan unek-unek dan pendapat. Untuk siswa yang masih canggung, ia membangun hubungan melalui percakapan konsisten sampai anak siap bercerita.
3. Anak Tahu Harus Meminta Bantuan kepada Siapa
Ketiga, anak menunjukkan kematangan ketika mengenali batas diri dan mencari bantuan. Seorang siswa SMPK TIRTAMARTA lebih dahulu bercerita kepada ibunya saat menghadapi kesulitan. Sang ibu membantunya tenang. Selanjutnya, guru BK mendengarkan masalahnya dengan seorang teman hingga ia merasa lega. Jadi, rumah dan sekolah perlu saling melengkapi.

4. Anak Boleh Salah tanpa Kehilangan Harga Diri
Keempat, lingkungan yang aman tidak menghapus konsekuensi. Guru tetap membantu anak mengakui tindakan, memahami dampaknya, dan memperbaiki keadaan.
Saat kelas V, Tobias pernah bermain dengan seorang teman hingga keduanya tidak sengaja saling melukai. Ia lalu mendatangi wali kelasnya, Ms. Jo. Setelah mendengar mereka, Ms. Jo memberi nasihat dan mengajak keduanya saling memaafkan. Dari proses itu, anak belajar jujur, bertanggung jawab, dan memulihkan hubungan.
Baca juga: Cara Mengatur Penggunaan Gawai Anak: 7 Langkah Sehat
5. Guru Mendengarkan dan Menindaklanjuti
Kelima, mendengarkan perlu berlanjut menjadi langkah yang adil, aman, dan sesuai kebutuhan.
Tobias pernah melaporkan ejekan yang ia dan temannya alami kepada guru BK. Setelah wali kelas mengetahuinya, sekolah membantu menyelesaikan masalah. Menurut Tobias, temannya kemudian berhenti mengejek dirinya maupun orang lain.
Divo, siswa SMAK TIRTAMARTA BPK PENABUR, juga merasakan pendampingan guru ketika melewati masa sulit.
“Bu Priska dan Pak Heru mendengarkan kisah serta perasaan yang tidak bisa saya ceritakan kepada siapa pun. Saya merasa dianggap seperti keluarga dan menyadari bahwa banyak orang peduli kepada saya.”
Guru tidak menggantikan keluarga, tetapi menjadi orang dewasa tepercaya ketika siswa perlu bercerita.
Baca komik: The Beyonders: Bekal Karakter Anak Memasuki Jenjang Pendidikan Berikutnya
6. Sekolah dan Keluarga Bekerja Sama
Keenam, anak lebih siap menghadapi perubahan ketika sekolah dan keluarga berkomunikasi. Seorang orang tua siswa SMPK TIRTAMARTA melihat anaknya semakin percaya diri setelah mendapat pendampingan guru BK atau psikolog sekolah. Ia belajar memahami perasaan, menghadapi tantangan, dan bercerita kepada keluarga.
Jadi, kemajuan tidak selalu berupa nilai atau piala. Kemajuan juga terlihat saat anak mampu berkata, “Aku sedang kesulitan,” lalu menerima bantuan.

7. Anak Belajar Bertanggung Jawab dan Peduli
Ketujuh, rasa aman bukan berarti anak selalu memperoleh kenyamanan. Lingkungan yang aman justru menolongnya bertumbuh dalam nilai taat, tanggung jawab, dan peduli, sesuai destination statement TIRTAMARTA.
Taat membimbing anak memilih yang benar berdasarkan iman. Selanjutnya, tanggung jawab mendorongnya mengakui pilihan dan memperbaiki dampak. Sementara itu, peduli menggerakkannya untuk mendengar, mencari bantuan, dan memulihkan hubungan.
Nilai tersebut terhubung dengan profil Pendidikan Karakter Kristiani Tirtamarta (PK2T), yaitu peduli sesama dan lingkungan. Bekal ini penting ketika siswa kelak kuliah, bekerja dalam tim, hidup di tengah perbedaan, dan berkontribusi secara lokal dan global.
Baca juga: Cara Mendampingi Anak Mandiri: 7 Langkah Penuh Kasih
Tiga Pertanyaan untuk Mengenali Rasa Aman Anak
Orang tua tidak perlu menunggu masalah muncul. Mulailah percakapan dengan tiga pertanyaan:
- Siapa orang dewasa di sekolah yang akan kamu datangi saat membutuhkan bantuan?
- Kapan terakhir kali kamu merasa benar-benar didengarkan di sekolah?
- Apa yang dapat kita lakukan bersama jika sesuatu membuatmu tidak nyaman?
Kemudian, dengarkan sampai selesai tanpa segera menghakimi atau mengambil alih. Jika masalah menyangkut keselamatan, hubungi sekolah dan tenaga profesional yang relevan.
Rasa Aman Menjadi Awal Keberanian untuk Bertumbuh
Kisah siswa, guru BK, dan orang tua menunjukkan bahwa anak merasa aman di sekolah ketika dirinya berharga, suaranya berarti, dan kesalahannya dapat diperbaiki. Dari sanalah keberanian untuk belajar, bertanggung jawab, dan peduli bertumbuh.
Bagi orang tua yang sedang mempertimbangkan lingkungan pendidikan, kenali lebih dekat Sekolah Kristen TIRTAMARTA–BPK PENABUR di Pondok Indah dan Cinere. Ajak anak mengunjungi sekolah, merasakan suasananya, dan mengajukan pertanyaan yang penting baginya. Sebab, memilih sekolah juga berarti memilih komunitas tempat ia bertumbuh.
Baca juga:
- 7 Alasan Orang Tua Memilih Sekolah yang Tepat untuk Anak
- Seminar Anti-Bullying SDK TIRTAMARTA BPK PENABUR
Kutipan wawancara disunting untuk ejaan dan keringkasan tanpa mengubah makna.
WhatsApp Admin PSB: tirtamarta.sch.id/linkhub
Beri anak Anda tempat yang tepat untuk tumbuh menjadi pemimpin masa depan.
………………………………
Penerimaan Siswa / Peserta Didik Baru 2027 / 2028
Sekolah Kristen TIRTAMARTA Penabur
Toddler, TK, SD, SMP, SMA
Pondok Indah & Cinere, Jakarta Selatan & Depok

MEREKA TIDAK TUMBUH DENGAN CARA YANG SAMA TAPI SAMA-SAMA DIBERI RUANG UNTUK BERSINAR





