Literasi keuangan anak SD tidak dimulai ketika anak memiliki rekening sendiri. Pembelajaran itu tumbuh melalui keputusan kecil sehari-hari: memilih jajanan, menunda membeli barang yang diinginkan, menyimpan sebagian uang, atau berbagi dengan orang lain.
Baca juga: Anak Merasa Aman di Sekolah: 7 Tanda yang Perlu Dikenali
Bagi anak usia sekolah dasar, uang dapat menjadi sarana untuk memahami bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi. Tujuannya bukan mendorong anak mengejar keuntungan, melainkan melatihnya menentukan prioritas dan bertanggung jawab. Kajian dalam Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Kemendikdasmen pun mengaitkan literasi finansial di sekolah dasar dengan kebiasaan berbagi, perencanaan sederhana, dan kecakapan hidup.
Mengapa Literasi Keuangan Anak SD Perlu Dimulai Sekarang?
Anak kini melihat pembayaran melalui ponsel, iklan digital, pembelian dalam gim, dan promosi yang membuat keinginan terasa mendesak. Karena uang digital tidak selalu terlihat berpindah tangan, proses membeli dapat terasa seolah-olah tanpa batas. UNICEF menjelaskan bahwa anak banyak belajar tentang uang melalui keluarga, konten daring, dan pengalaman digital. Karena itu, percakapan perlu dimulai sejak dini.
Baca juga: Cara Menumbuhkan Iman Anak: 7 Kebiasaan yang Membekas
Jika keluarga belum memberikan uang saku secara rutin, latihan berikut tetap dapat dilakukan saat berbelanja bersama atau menyiapkan kebutuhan sekolah.
7 Cara Mengajarkan Anak Mengelola Uang
1. Jelaskan tujuan pemberian uang
Jelaskan untuk keperluan apa uang dapat digunakan dan keputusan apa yang menjadi tanggung jawab anak. Dengan batas yang jelas, anak memahami bahwa uang bukan sesuatu yang harus segera dihabiskan, melainkan kepercayaan yang perlu dikelola.

2. Bedakan kebutuhan dan keinginan melalui contoh nyata
Istilah “kebutuhan” dan “keinginan” lebih mudah dipahami melalui contoh. Bekal untuk kegiatan sekolah memiliki prioritas berbeda dari aksesori yang sedang tren. Ketika anak meminta sesuatu, jangan langsung melabelinya boros. Tanyakan, “Apa manfaatnya?”, “Apakah harus dibeli hari ini?”, atau “Apa yang terjadi jika pembeliannya ditunda?”
3. Gunakan tiga bagian: pakai, simpan, dan berbagi
Ajak anak membagi uang ke dalam tiga bagian: untuk digunakan, disimpan, dan dibagikan. Persentasenya tidak harus sama bagi setiap keluarga. Yang penting, anak memahami bahwa uang memiliki lebih dari satu tujuan. Cara ini menghubungkan literasi keuangan anak SD dengan tanggung jawab dan kepedulian.
Baca juga: Cara Mendengarkan Anak Remaja: 7 Kebutuhan Penting
4. Buat tujuan menabung yang terlihat
Kalimat “menabung untuk nanti” mungkin terlalu abstrak. Pilih tujuan yang jelas, tuliskan jumlah yang dibutuhkan, lalu tandai perkembangannya. Target kecil membantu anak melihat hubungan antara kesabaran, konsistensi, dan hasil. Otoritas Jasa Keuangan juga mendorong pembiasaan menabung sejak dini.
5. Libatkan anak dalam keputusan belanja
Berikan situasi nyata dengan batas aman. Misalnya, minta anak memilih camilan untuk keluarga sesuai anggaran atau membandingkan dua barang dengan fungsi serupa. Bicarakan alasan pilihannya. Selain berhitung, anak belajar berkomunikasi, memecahkan masalah, dan menentukan prioritas.
Baca juga: Cara Mengatur Penggunaan Gawai Anak: 7 Langkah Sehat
6. Izinkan kesalahan kecil menjadi bahan refleksi
Anak mungkin menghabiskan uang terlalu cepat, lalu menyesal. Selama tidak menyangkut keselamatan atau kebutuhan pokok, orang tua tidak harus segera mengganti uang yang habis. Bahas keputusan yang dibuat, akibatnya, dan pilihan berbeda untuk kesempatan berikutnya. Kesalahan pun menjadi ruang belajar, bukan sumber rasa malu.

7. Lakukan refleksi mingguan, bukan ceramah panjang
Sisihkan waktu untuk melihat kembali pilihan anak selama satu minggu. Tanyakan keputusan mana yang membuatnya bangga, bagian yang masih sulit, dan apa yang ingin diperbaiki.
Ibu Desi, Wakil Kepala Sekolah SDK TIRTAMARTA BPK PENABUR Cinere, menerapkan kebiasaan tersebut di rumah. Ia memberikan uang untuk kebutuhan anak selama satu minggu agar anak belajar mengelolanya secara mandiri.
“Anak belajar membagi uang tersebut untuk jajan, menabung, dan berbagi. Setiap akhir minggu, saya melakukan pengecekan dan refleksi bersama mengenai penggunaan uang selama satu minggu,” jelas Desi.
Jika uang habis atau kurang, ia tidak membiasakan memberi tambahan kecuali untuk kebutuhan mendesak. Anak pun belajar menghadapi konsekuensi yang aman, membuat prioritas, dan bertanggung jawab.
Baca Komik: Cara Memeriksa Informasi Viral: Komik The Beyonders
Dari Mengelola Uang Menuju Pembentukan Karakter
Kemampuan mengelola uang tidak berhenti pada kebiasaan menabung. Anak perlu memahami dari mana uang berasal, bagaimana membuat rencana, mengelola hasil, dan mempertimbangkan dampak pilihannya. Pak Yohanes, Kepala Sekolah SDK TIRTAMARTA BPK PENABUR Cinere, melihat Entrepreneurship dan literasi keuangan sebagai dua hal yang saling melengkapi dalam melatih pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.
“Murid belajar bahwa uang diperoleh melalui usaha, bukan sekadar diberikan. Murid memahami bahwa keuntungan harus dikelola, bukan dihabiskan seluruhnya,” ujar Yohanes.
Pembelajaran tersebut diwujudkan melalui Project Entrepreneurship dan Gebyar Entrepreneurship. Dengan pendampingan guru, murid belajar membuat perencanaan sederhana, mencatat pemasukan dan pengeluaran, menabung sebagian keuntungan untuk pengembangan usaha, serta menyisihkan hasil untuk berbagi.
Baca juga: Cara Mendampingi Anak Mandiri: 7 Langkah Penuh Kasih
Pengalaman itu menunjukkan bahwa uang berkaitan dengan usaha, kerja keras, kreativitas, dan kerja sama. Entrepreneurship tidak berhenti sebagai kegiatan jual beli, tetapi menjadi ruang untuk mengambil keputusan dan mempertanggungjawabkannya bersama.

Ketika Rumah dan Sekolah Menumbuhkan Kebiasaan yang Selaras
Pembiasaan akan lebih kuat ketika anak menemukan nilai yang selaras di rumah dan sekolah. Melalui Christian Character (PK2T), Entrepreneurship, dan budaya lingkungan, SDK TIRTAMARTA BPK PENABUR Cinere mendorong murid menggunakan apa yang dimilikinya secara bertanggung jawab dan peduli.
Pada akhirnya, literasi keuangan anak SD bukan pelajaran untuk mengejar uang sebanyak-banyaknya. Ini adalah latihan memilih dengan bijak, menepati rencana, mengelola kekecewaan, menghargai usaha, dan memahami bahwa keputusan pribadi berdampak bagi orang lain.
Mulailah dari satu kebiasaan yang paling sesuai dengan keluarga Anda. Keputusan kecil yang dilatih secara konsisten dapat menjadi dasar karakter yang dibawa anak hingga dewasa.
Ingin mengenal pembelajaran dan lingkungan SDK TIRTAMARTA BPK PENABUR Cinere lebih dekat? Hubungi kanal resmi Penerimaan Siswa Baru TIRTAMARTA.
WhatsApp Admin PSB: tirtamarta.sch.id/linkhub
Beri anak Anda tempat yang tepat untuk tumbuh menjadi pemimpin masa depan.
………………………………
Penerimaan Siswa / Peserta Didik Baru 2027 / 2028
Sekolah Kristen TIRTAMARTA Penabur
Toddler, TK, SD, SMP, SMA
Pondok Indah & Cinere, Jakarta Selatan & Depok

MEREKA TIDAK TUMBUH DENGAN CARA YANG SAMA TAPI SAMA-SAMA DIBERI RUANG UNTUK BERSINAR





