
(Rabu, 7 Oktober 2026)
Bacaan Alkitab (TB2):
1 Tesalonika 5:14-15
“Perhatikanlah, supaya jangan ada orang yang membalas yang jahat dengan yang jahat, tetapi usahakanlah senantiasa yang baik, terhadap kamu masing-masing dan terhadap semua orang.”
(TB2, 1 Tesalonika 5:15)
Suatu hari, dua orang remaja berselisih karena salah memahami perkataan temannya. Salah seorang merasa tersinggung lalu membalas dengan kata-kata kasar. Temannya tidak mau kalah dan membalas dengan perkataan yang lebih menyakitkan. Pertengkaran itu semakin besar karena keduanya merasa harus mempertahankan diri dan membalas perlakuan yang diterima. Seorang guru yang mengetahui hal itu kemudian mendekati mereka dan berkata, “Kalau kalian terus membalas, kapan pertengkaran ini akan berhenti?” Keduanya akhirnya menyadari bahwa satu-satunya cara menghentikan pertengkaran adalah dengan berhenti membalas kejahatan dengan kejahatan.
Nasihat Paulus dalam 1 Tesalonika 5:15 diberikan kepada jemaat di Tesalonika agar mereka belajar hidup dalam kasih dan saling membangun. Paulus menyadari bahwa kehidupan bersama tidak selalu mudah karena perbedaan dan konflik dapat muncul di antara orang percaya. Karena itu, mereka diminta untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi terus mengusahakan yang baik. Nasihat ini sesuai dengan ajaran Yesus yang mengajarkan umat-Nya untuk mengasihi sesama dan tidak membalas kejahatan dengan kekerasan. Melakukan kebaikan bukan berarti membenarkan kesalahan atau membiarkan seseorang menyakiti kita. Anti-kekerasan berarti memilih menyelesaikan masalah tanpa melakukan tindakan yang melukai orang lain. Ketika menghadapi konflik, orang percaya dipanggil untuk mengendalikan diri, mencari jalan damai, dan memperlakukan orang lain dengan kasih.
Karena itu, marilah kita belajar menghentikan lingkaran kekerasan mulai dari diri sendiri. Ketika disakiti, jangan bersikap reaktif dan membalas dengan perkataan atau tindakan yang menyakitkan. Beranilah memilih untuk berdialog, mengampuni, dan melakukan kebaikan sebagai jalan menghadapi konflik. Ingatlah bahwa kelembutan bukan kelemahan, melainkan kekuatan untuk mengendalikan diri. Kiranya kehidupan kita menjadi teladan yang menunjukkan bahwa kasih Kristus dapat menghadirkan damai di tengah konflik. –mb
POKOK DOA
Tuhan, ajarlah kami untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Berikan kami hati yang lembut, penguasaan diri, dan keberanian untuk menolak kekerasan. Tolong kami agar mampu menyelesaikan konflik dengan kasih, mengampuni, dan terus melakukan kebaikan kepada semua orang. Jadikanlah kami pembawa damai di mana pun kami berada. Amin.





