
Berbeda pendapat adalah bagian dari kehidupan remaja. Di kelas, pertemanan, keluarga, grup chat, hingga media sosial, anak akan bertemu orang yang melihat satu hal dengan cara berbeda.
Masalahnya bukan pada adanya perbedaan.
Yang lebih penting adalah: apa yang dilakukan anak ketika ia merasa dirinya benar?
Apakah ia mau mendengar? Mampukah ia menjelaskan alasan tanpa merendahkan? Apakah ia bersedia memeriksa informasi sebelum mempertahankan pendapat?
Kemampuan menghadapi perbedaan dengan sehat tidak muncul begitu saja. Remaja membutuhkan kesempatan untuk melatihnya. UNICEF memasukkan kemampuan mendengarkan ide orang lain, menghargai perbedaan, bekerja sama, dan menyelesaikan konflik sebagai bagian dari kompetensi penting bagi remaja. UNICEF Global
Berikut tujuh bekal yang dapat diperhatikan dan dilatih bersama.
1. Mendengarkan Sebelum Membalas
Saat tidak setuju, respons pertama kita sering kali adalah menyiapkan bantahan.
Padahal, mendengarkan bukan berarti menyetujui.
Remaja perlu belajar memahami apa yang sebenarnya dikatakan lawan bicara sebelum merespons.
UNICEF Indonesia menjelaskan bahwa active listening berarti mendengarkan dengan sungguh-sungguh, peduli, tidak menghakimi, dan tetap menghargai pandangan anak—termasuk ketika pandangan tersebut berbeda. UNICEF Global
Orang tua dapat melatihnya dengan pertanyaan sederhana:
“Menurutmu, apa alasan dia berpikir begitu?”
Pertanyaan tersebut menggeser fokus dari “siapa yang menang?” menjadi “apa yang sebenarnya sedang dibicarakan?”
2. Membahas Gagasan, Bukan Menyerang Orangnya
Ada perbedaan besar antara:
“Aku tidak setuju karena datanya berbeda.”
dan:
“Kamu memang nggak ngerti.”
Kalimat pertama membahas gagasan. Kalimat kedua menyerang pribadi.
Remaja perlu belajar bahwa ketidaksetujuan tidak memberi izin untuk mengejek, mempermalukan, memberi label, atau membawa kekurangan pribadi seseorang ke dalam perdebatan.
Hal ini semakin relevan ketika percakapan juga terjadi melalui chat dan media sosial.
Tujuannya bukan membuat anak takut menyampaikan pendapat.
Justru sebaliknya: anak dapat belajar berani berbicara tanpa harus menjatuhkan orang lain.
3. Berani Bertanya: “Datanya dari Mana?”
Pendapat yang disampaikan dengan sangat percaya diri belum tentu benar.
Karena itu, salah satu bekal penting bagi remaja adalah kemampuan mencari dasar yang dapat diperiksa: sumber, data, konteks, atau fakta.
UNESCO menempatkan kemampuan mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara kritis serta bertanggung jawab sebagai bagian penting dari media and information literacy. Kemampuan tersebut semakin relevan ketika anak berhadapan dengan banyaknya informasi digital, misinformasi, dan teknologi AI. UNESCO
Jadi ketika muncul perbedaan, pertanyaannya tidak selalu:
“Siapa yang paling yakin?”
Tetapi:
“Apa dasar yang bisa kita periksa bersama?”
Inilah salah satu titik ketika berbeda pendapat dapat menjadi latihan berpikir kritis.
4. Berani Mengubah Pendapat Ketika Bukti Berubah
Mempertahankan pendapat sering dianggap sebagai tanda percaya diri.
Padahal, kemampuan mengatakan:
“Ternyata informasi saya kurang tepat.”
juga membutuhkan keberanian.
Berpikir kritis bukan berarti selalu membantah.
Anak juga perlu mampu memeriksa kembali pemikirannya ketika menemukan informasi yang lebih kuat.
Di sinilah diskusi dapat berubah dari pertandingan siapa yang menang menjadi kesempatan untuk menemukan pemahaman yang lebih baik.
Bagi orang tua, ini juga menjadi pengingat bahwa mengakui kesalahan di depan anak bukan selalu tanda kehilangan wibawa.
Kita justru sedang menunjukkan bahwa pendapat boleh berubah ketika bukti berubah.
Baca juga: Prestasi Siswa SMAK TIRTAMARTA 2026: Banyak Potensi, Banyak Cara untuk Bersinar
5. Perbedaan Pendapat Bisa Menjadi Kesempatan Belajar
Bagaimana jika perbedaan itu terjadi di sekolah?
Ibu Ester Susilowati guru PPKn dari SMP TIRTAMARTA – BPK PENABUR Cinere melihat perbedaan pendapat antarsiswa justru sebagai kesempatan untuk mengajarkan nilai demokrasi dan toleransi dalam keberbedaan yang ia kaitkan dengan Sila ke-3 dan Sila ke-4 Pancasila.
Ketika siswa memiliki pendapat berbeda, pendekatannya bukan sekadar menentukan siapa yang menang.
Ibu Ester mendengarkan, menjadi fasilitator, lalu mengarahkan siswa mencari data yang valid sehingga mereka dapat menemukan dasar kebenaran.
Tujuannya, sebagaimana disampaikan Ibu Ester, agar siswa dapat:
“belajar kritis tapi bertanggung jawab dan toleran.”
Pengalaman tersebut memberikan satu perspektif penting.
Perbedaan tidak selalu harus segera dihilangkan.
Dengan pendampingan, perbedaan justru dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk belajar mendengar, mencari fakta, mempertanggungjawabkan pendapat, dan menghargai orang lain.
6. Tidak Semua Perbedaan Harus Berakhir dengan Kesepakatan
Kadang dua orang sudah saling mendengar dan memeriksa informasi, tetapi tetap mempunyai pilihan atau sudut pandang berbeda.
Itu tidak selalu berarti diskusinya gagal.
Remaja perlu memahami bahwa hubungan yang sehat tidak mensyaratkan semua orang mempunyai pendapat yang sama.
UNICEF juga menempatkan kemampuan memahami perspektif orang lain serta menghargai persamaan dan perbedaan sebagai bagian dari pengembangan empati dan rasa hormat pada remaja. UNICEF Global
Anak dapat belajar mengatakan:
“Aku tetap punya pendapat berbeda, tetapi aku mengerti alasanmu.”
Kalimatnya sederhana.
Namun, ada kemampuan besar di baliknya: tidak setuju tanpa harus menjadi musuh.
Baca juga: Taman Safari Goes to School di TKK TIRTAMARTA Jakarta
7. Tahu Kapan Harus Berhenti
Tidak semua percakapan akan tetap sehat.
Jika diskusi berubah menjadi ejekan, penghinaan, ancaman, atau serangan pribadi, tujuan percakapan sudah bergeser.
Anak perlu mengetahui bahwa berhenti sejenak bukan berarti kalah.
Ia dapat memilih menenangkan diri, meminta bantuan orang dewasa, atau melanjutkan pembicaraan ketika situasi lebih kondusif.
UNICEF juga menyarankan pendamping memberi ruang kepada remaja untuk menyelesaikan ketidaksepakatan dengan keterampilan yang mereka miliki, tetapi ikut membantu ketika konflik semakin memanas atau sulit mereka selesaikan sendiri. UNICEF Global
Dengan demikian, kemampuan mengelola konflik sama pentingnya dengan kemampuan menyampaikan argumen.
Apa yang Bisa Orang Tua Latih di Rumah?
Rumah mempunyai banyak kesempatan kecil untuk melatihnya.
Film, pertandingan olahraga, perjalanan di mobil, keputusan keluarga, atau berita ringan dapat menjadi bahan percakapan.
Ketika pendapat anak berbeda, orang tua tidak harus langsung mengatakan benar atau salah.
Cobalah bertanya:
“Apa alasanmu?”
“Informasinya dari mana?”
“Menurutmu, mengapa orang lain bisa melihatnya berbeda?”
“Kalau ternyata datanya berbeda, apakah pendapatmu bisa berubah?”
Yang sedang dilatih bukan agar anak selalu setuju dengan orang tua.
Yang sedang dibangun adalah kebiasaan untuk menjelaskan, mendengar, memeriksa, dan bertanggung jawab terhadap apa yang ia katakan.
Kenali Jenjang SMAK TIRTAMARTA BPK PENABUR lebih dekat
Berbeda Pendapat Juga Bagian dari Proses Bertumbuh
Semakin besar, anak akan semakin sering bertemu dengan perbedaan.
Karena itu, tujuan pendampingan bukan membuat remaja selalu mempunyai pendapat yang sama dengan orang-orang di sekitarnya.
Mereka perlu belajar:
mempunyai suara tanpa merendahkan suara orang lain;
berani menyampaikan alasan sekaligus berani mendengar;
kritis terhadap informasi tanpa merasa harus memenangkan setiap percakapan;
dan teguh pada nilai sambil tetap menghargai manusia yang berbeda.
Bagi orang tua yang sedang memilih sekolah, hal ini juga membuka satu pertanyaan yang mungkin jarang ditanyakan saat school tour:
“Apa yang dilakukan sekolah ketika siswa berbeda pendapat?”
Jawabannya dapat membantu orang tua melihat bukan hanya apa yang diajarkan kepada anak, tetapi juga bagaimana anak didampingi ketika menghadapi situasi nyata bersama orang lain.
Jika Bapak/Ibu sedang mempertimbangkan sekolah untuk Tahun Pelajaran 2027/2028, kunjungan langsung dapat menjadi kesempatan untuk mengenal lingkungan belajar dan proses pendampingan siswa di SMP TIRTAMARTA – BPK PENABUR Cinere dengan lebih dekat.
Kenali Lebih Dekat SMP TIRTAMARTA – BPK PENABUR Cinere
Jadwalkan School Tour
Kenali Program SMP TIRTAMARTA – BPK PENABUR Cinere
Konsultasi Penerimaan Siswa Baru 2027/2028
WhatsApp Admin PSB: tirtamarta.sch.id/linkhub
Beri anak Anda tempat yang tepat untuk tumbuh menjadi pemimpin masa depan.
………………………………
Penerimaan Siswa / Peserta Didik Baru 2027 / 2028
Sekolah Kristen TIRTAMARTA Penabur
Toddler, TK, SD, SMP, SMA
Pondok Indah & Cinere, Jakarta Selatan & Depok
Baca Artikel lainnya:







