Class Meeting SMPK TIRTAMARTA bukan sekadar rangkaian lomba setelah siswa menyelesaikan kegiatan belajar. Melalui basket, bola tangan, benteng air, serta entrepreneurship, siswa SMPK TIRTAMARTA BPK PENABUR Pondok Indah berlatih mengambil peran, bekerja sama, menghadapi penolakan, mengelola rasa gugup, dan bertanggung jawab atas pilihan mereka.
Baca juga: Cara Mendampingi Anak Mandiri: 7 Langkah Penuh Kasih
Bagi banyak orang tua, kemampuan tersebut semakin penting ketika anak memasuki usia remaja. Nilai akademik tetap berarti. Namun, anak juga perlu mampu berkomunikasi, memahami kekuatan orang lain, mengendalikan diri, serta menyelesaikan tugas tanpa selalu menunggu arahan.
Karena itu, class meeting dapat menjadi ruang belajar kehidupan yang nyata. Siswa tidak hanya memperoleh pengalaman yang menyenangkan, tetapi juga belajar menghadapi berbagai situasi sosial yang akan mereka temui saat kuliah, bekerja, dan hidup bermasyarakat.
Ringkasan Cepat
- Siswa mengikuti basket, bola tangan, benteng air, dan entrepreneurship dengan menjual minuman.
- Mereka belajar mengenali minat, berkomunikasi, membagi peran, menghadapi penolakan, dan mengatasi rasa gugup.
- Kegiatan ini menghidupkan destination statement TIRTAMARTA: taat, tanggung jawab, dan peduli.
- Pengalaman siswa selaras dengan profil PK2T Mandiri dan Kesepakatan Komunitas.
- Bekal tersebut relevan untuk pendidikan lanjutan, pekerjaan, serta kehidupan bermasyarakat lokal dan global.
Baca juga: SMAK TIRTAMARTA Juara STRUKTURA UPH: 2 Tim Tangguh

Class Meeting SMPK TIRTAMARTA Bukan Sekadar Hiburan
Suasana class meeting terlihat meriah. Sebagian siswa bertanding basket dan bola tangan. Sementara itu, kelompok lain menyusun strategi dalam lomba benteng air. Di sekitar area pertandingan, siswa juga menawarkan minuman kepada teman-teman yang bermain maupun menonton.
Sekilas, seluruh aktivitas tersebut tampak seperti hiburan akhir semester. Namun, di balik keseruannya, setiap siswa menghadapi situasi yang menuntut keputusan nyata.
Mereka perlu memilih peran, membawa perlengkapan, mengatur tenaga, menjaga stan, menawarkan produk, membaca pergerakan lawan, serta menghargai keputusan orang lain. Bahkan, ketika rencana tidak berjalan lancar, mereka perlu menata respons dan mencoba kembali.
Dengan demikian, siswa tidak hanya mendengar penjelasan tentang kerja sama dan tanggung jawab. Sebaliknya, mereka langsung mempraktikkan kedua nilai tersebut.
Kepercayaan diri pun tidak tumbuh hanya karena anak mendengar nasihat untuk menjadi lebih berani. Kepercayaan diri berkembang ketika anak memperoleh kesempatan untuk bertindak, menghadapi konsekuensi, menerima dukungan, dan menyadari bahwa kontribusinya berarti.
Baca juga: Prestasi Siswa SMP TIRTAMARTA: 1 Kisah Juara Story Telling
5 Bekal Hidup dari Class Meeting SMPK TIRTAMARTA
1. Menemukan Minat yang Membuat Anak Mau Bertumbuh
Ethan Laurens dari kelas 8B memilih basket karena sudah menyukai olahraga tersebut sejak kecil. Selain itu, ia merasakan kebahagiaan ketika bermain bersama teman-temannya.
“Aku memilih basket karena dari kecil suka bermain basket. Kalau bisa bermain dengan teman, aku merasa bahagia,” tutur Ethan.
Jawaban sederhana itu menunjukkan bahwa proses pertumbuhan sering bermula dari ketertarikan yang tulus. Ketika sekolah memberi ruang bagi siswa untuk terlibat dalam kegiatan yang mereka sukai, siswa lebih mudah membangun motivasi dari dalam dirinya.
Namun, minat bukanlah tujuan akhir. Melalui minat tersebut, siswa belajar berlatih, mengikuti aturan, menjaga komitmen, dan berinteraksi dengan orang lain.
Karena itu, kegiatan yang menyenangkan dapat menjadi pintu masuk menuju pembentukan karakter. Anak mulai bertumbuh bukan hanya karena menerima perintah, tetapi karena menyadari bahwa proses tersebut juga bermakna bagi dirinya.
Baca juga: 7 Alasan Komunitas Sekolah Kristen yang Hangat Membantu Anak Bertumbuh Lebih Baik

2. Mengakui Kekuatan Teman dan Bekerja sebagai Tim
Aenbert Orlando Wang dari kelas 8A memperoleh pelajaran penting ketika bermain basket. Ia menyadari bahwa sebuah tim membutuhkan komunikasi dan kepercayaan.
Karena Jethro memiliki kemampuan menembak bola yang baik, Orlando berusaha memberikan operan pada saat yang tepat.
“Di dalam pertandingan basket tidak ada yang sendiri. Basket membutuhkan komunikasi dan tidak bisa dimainkan seorang diri,” jelas Orlando.
Melalui pengalaman tersebut, Orlando tidak hanya belajar menguasai bola. Ia juga belajar mengenali kekuatan orang lain. Selanjutnya, ia mengambil keputusan yang mendukung keberhasilan tim, bukan sekadar mengejar kesempatan untuk tampil sendiri.
Sikap tersebut penting bagi masa depan remaja. Saat kuliah, mereka akan menghadapi berbagai proyek kelompok. Kemudian, dalam dunia kerja, mereka akan berkolaborasi dengan orang-orang yang memiliki kemampuan, latar belakang, dan cara berpikir berbeda.
Oleh karena itu, kemampuan mempercayai teman, berbagi peran, serta mendahulukan tujuan bersama menjadi bekal yang sangat berharga.
Baca juga: 5 Masalah Anak Zaman Sekarang yang Sering Tidak Disadari Orang Tua

3. Menjalankan Tanggung Jawab dan Menghadapi Penolakan
Neil Ethan Wendiady dari kelas 8A menghadapi tantangan yang berbeda. Bersama kelompoknya, ia harus membawa barang dari lantai tiga, membagi shift pertandingan, mempromosikan minuman, dan menjaga stan.
“Kami mengatasinya dengan kerja sama. Kami selalu berkoordinasi dan berkomunikasi. Ada anggota yang mempromosikan, sementara yang lain menjaga stan,” ungkap Neil.
Karena setiap tugas membutuhkan tenaga dan perhatian, kelompok Neil tidak dapat mengandalkan satu orang. Mereka harus membagi pekerjaan secara jelas. Selain itu, mereka tetap perlu menjalankan tanggung jawab meskipun pada saat yang sama mengikuti pertandingan.
Kegiatan entrepreneurship tersebut juga mengajarkan cara menghadapi penolakan. Ketika ada siswa yang tidak membeli, Neil tidak memaksanya. Menurutnya, masih ada orang lain yang mungkin tertarik.
Baca juga: 7 Pertanyaan Memilih Sekolah Anak yang Paling Sering Dipikirkan Orang Tua
Sikap tersebut menunjukkan pemahaman yang penting: berusaha bukan berarti memaksa.
Sebaliknya, seorang penjual perlu menghargai keputusan calon pembeli, menjaga komunikasi, dan tetap berusaha dengan cara yang baik. Karena itu, kegiatan menjual minuman tidak hanya melatih siswa mendapatkan transaksi.
Mereka juga belajar tentang pelayanan, etika, komunikasi, ketahanan mental, serta pengendalian diri.
4. Menyusun Strategi dan Tetap Bergerak Saat Gugup
Dalam lomba benteng air, Ayunda Ama Imanuela Leimena dari kelas 7A menjelaskan bahwa timnya menentukan pemain penyerang dan pemain yang mempertahankan benteng sejak awal.
“Kami menentukan siapa yang menyerang dan siapa yang menjaga benteng. Jadi, kami bisa membagi peran secara seimbang untuk mencapai tujuan bersama,” kata Ayunda.
Melalui pembagian tersebut, setiap anggota memahami kontribusinya. Selain itu, tim dapat bergerak dengan lebih terarah karena setiap siswa mengetahui tanggung jawabnya.
Baca juga: 5 Kesalahan Memilih Sekolah Anak yang Sering Tidak Disadari Orang Tua
Namun, strategi yang baik tetap harus menghadapi tekanan di lapangan.
Jaden Fredrick Kustiono dari kelas 7A mengingat momen awal pertandingan ketika para pemain masih ragu melewati garis biru. Mereka memegang gayung sambil menghadapi rasa gugup.
“Momen paling menegangkan terjadi pada awal pertandingan. Dari situ, kami belajar harus fokus dan bekerja sama untuk mempertahankan benteng,” ujar Jaden.
Rasa gugup tidak otomatis menunjukkan bahwa anak tidak mampu. Sebaliknya, kegugupan sering muncul ketika anak menghadapi pengalaman baru dan menyadari bahwa tindakannya memengaruhi tim.
Oleh sebab itu, tugas pendidikan bukan menghapus seluruh tekanan dari kehidupan anak. Pendidikan perlu membantu anak mengelola tekanan secara bertahap.
Melalui benteng air, siswa belajar bahwa rencana membutuhkan keberanian untuk dijalankan. Mereka juga memahami bahwa keberanian tidak selalu berarti bebas dari rasa takut. Keberanian berarti tetap fokus, berkomunikasi, dan mengambil langkah meskipun rasa gugup masih ada.

5. Membangun Kepercayaan Diri melalui Komunitas
Sandra Latisha Nauli Panjaitan atau Tisha merasakan perubahan setelah mengikuti class meeting. Ia merasa lebih percaya diri dan semakin terdorong untuk berolahraga.
Selain itu, Tisha merasakan dukungan guru dan teman melalui kerja sama serta komunikasi.
“Aku merasa lebih percaya diri dan lebih terdorong untuk berolahraga. Guru dan teman-teman membantu lewat kerja sama dan komunikasi,” tutur Tisha.
Pengalaman Tisha memperlihatkan bahwa kepercayaan diri tidak tumbuh dalam ruang kosong. Anak membutuhkan komunitas yang memberinya kesempatan, menerima prosesnya, dan mendorongnya untuk mencoba.
Baca juga: Sehari Menjadi Siswa TIRTAMARTA: Belajar dan Bertumbuh dengan Nyaman
Karena itu, guru dan teman tidak hanya membantu ketika seorang siswa mengalami kesulitan. Mereka juga dapat menolong siswa mengenali kemajuan yang mungkin belum ia sadari sendiri.
Pada akhirnya, siswa memahami bahwa ia tidak harus selalu menjadi pemain paling hebat untuk memiliki peran. Ia perlu hadir, berusaha, mendengarkan, dan memberi kontribusi.
Dengan demikian, keberhasilan tidak hanya terlihat dari kemenangan. Keberhasilan juga tampak melalui keberanian untuk terlibat, mencoba, serta bertumbuh bersama.

Class Meeting SMPK TIRTAMARTA Menghidupkan Taat, Tanggung Jawab, dan Peduli
Kegiatan ini menghidupkan destination statement TIRTAMARTA melalui pengalaman yang dapat siswa rasakan secara langsung.
Taat dalam Menghormati Aturan
Pertama, siswa belajar taat ketika mengikuti aturan pertandingan, menghormati batas lapangan, menjalankan kesepakatan, dan menjaga sportivitas.
Dengan demikian, ketaatan tidak berhenti pada kepatuhan terhadap instruksi. Siswa juga belajar memahami bahwa aturan menjaga permainan agar tetap aman, tertib, dan adil.
Tanggung Jawab atas Setiap Peran
Kedua, siswa belajar tanggung jawab ketika membawa perlengkapan, menjaga stan, menjalankan shift, mempertahankan posisi, dan menyelesaikan tugas.
Karena setiap tindakan memengaruhi kelompok, siswa belajar bahwa pilihan pribadi selalu membawa konsekuensi. Oleh karena itu, setiap anggota perlu menjalankan perannya dengan sungguh-sungguh.

Peduli terhadap Teman dan Orang Lain
Ketiga, siswa belajar peduli ketika mengenali kekuatan temannya, memberikan operan, saling mendukung, dan menghormati siswa yang tidak membeli produk mereka.
Kepedulian tidak hanya tumbuh melalui kegiatan sosial besar. Sebaliknya, kepedulian juga hadir melalui keputusan kecil yang menempatkan kebaikan bersama di atas keinginan pribadi.
Profil PK2T Mandiri dan Kesepakatan Komunitas
Pendidikan Karakter Kristiani TIRTAMARTA atau PK2T ACTS memiliki 12 profil karakter. Dua profil yang terlihat kuat dalam kegiatan ini ialah Mandiri dan Kesepakatan Komunitas. Secara resmi, TIRTAMARTA juga mengarahkan pendidikan untuk mengembangkan siswa yang berkarakter, kompeten, dan peduli.
Mandiri tidak berarti mengerjakan semuanya sendirian. Sebaliknya, siswa menunjukkan kemandirian ketika berani memilih kegiatan, menerima peran, mengambil keputusan, menghadapi penolakan, dan mengelola rasa gugup.
Selain itu, siswa yang mandiri tetap mampu meminta bantuan, menerima masukan, dan bekerja sama tanpa melepaskan tanggung jawab pribadi.
Sementara itu, profil Kesepakatan Komunitas tampak ketika siswa mematuhi aturan, membagi tugas, menjaga komunikasi, serta mengutamakan tujuan tim.
Kedua profil tersebut saling melengkapi. Mandiri membantu siswa memiliki arah dan tanggung jawab pribadi. Kemudian, Kesepakatan Komunitas menolong siswa menggunakan kemampuannya untuk membangun kehidupan bersama.

Bekal untuk Kuliah, Pekerjaan, dan Kehidupan Global
Meskipun class meeting berlangsung dalam suasana menyenangkan, siswa dapat membawa pelajarannya jauh setelah kegiatan berakhir.
Ketika melanjutkan pendidikan, mereka akan menghadapi jadwal, tugas mandiri, presentasi, organisasi, dan proyek kelompok. Oleh karena itu, kemampuan mengatur peran, berkomunikasi, dan tetap bergerak saat gugup akan membantu mereka beradaptasi.
Selanjutnya, dalam dunia kerja, mereka perlu memahami kebutuhan orang lain, menerima penolakan, melayani dengan etis, serta berkolaborasi dengan rekan yang berbeda.
Pengalaman entrepreneurship memberi dasar untuk memahami kebutuhan tersebut. Sementara itu, basket, bola tangan, dan benteng air melatih fokus, strategi, kedisiplinan, komunikasi, serta kepercayaan.
Di tengah masyarakat lokal maupun global, siswa juga perlu menghargai aturan, mendengarkan sudut pandang lain, dan menggunakan kemampuan pribadi untuk kepentingan bersama.
Karena itu, latihan karakter pada masa SMP bukan persiapan yang terlalu dini. Justru, masa remaja menjadi waktu penting untuk membangun kebiasaan sebelum tanggung jawab yang lebih besar datang.

Sekolah yang Memberi Ruang bagi Anak untuk Mengambil Peran
Class meeting menunjukkan bahwa pendidikan dapat berlangsung melalui berbagai pengalaman.
Di kelas, siswa membangun pengetahuan. Sementara itu, di lapangan dan stan entrepreneurship, mereka menguji cara berkomunikasi, mengambil keputusan, mengelola emosi, dan menjalankan tanggung jawab.
Melalui kegiatan semacam ini, SMPK TIRTAMARTA BPK PENABUR Pondok Indah memberi ruang bagi siswa untuk menemukan minat, mencoba strategi, menghadapi tantangan, serta belajar bersama komunitas.
Karena itu, sekolah tidak hanya menyiapkan siswa untuk menyelesaikan ujian. Sekolah juga mendampingi mereka menjadi pribadi yang taat, tanggung jawab, dan peduli.
Pada akhirnya, masa depan membutuhkan lebih dari anak yang mengetahui banyak hal. Masa depan membutuhkan pribadi yang mampu bekerja bersama, berani mengambil peran, menghargai orang lain, dan tetap memegang nilai ketika menghadapi tekanan.
Itulah bekal yang mulai tumbuh dari sebuah class meeting—melalui operan bola, pembagian shift, strategi benteng air, keberanian menawarkan minuman, serta keputusan untuk tetap berusaha ketika rencana belum berjalan sempurna.

Bertumbuh Bersama SMPK TIRTAMARTA BPK PENABUR
SMPK TIRTAMARTA BPK PENABUR Pondok Indah menghadirkan pendidikan karakter Kristiani, kegiatan pembelajaran, olahraga, serta ruang pengembangan potensi untuk membantu siswa bertumbuh secara utuh. Sekolah juga telah membuka Penerimaan Siswa Baru Tahun Pelajaran 2026/2027. Mari mengenal lebih dekat lingkungan belajar yang mendampingi remaja menemukan kekuatan dirinya, membangun kompetensi, dan bertumbuh menjadi pribadi yang membawa kebaikan bagi sesama.
Temukan informasi program dan Penerimaan Siswa Baru melalui website resmi TIRTAMARTA BPK PENABUR.
Kenali lebih dekat bagaimana TIRTAMARTA BPK PENABUR mendampingi anak bertumbuh dari jenjang TK hingga SMA di Pondok Indah dan Cinere.
Kenali Program TIRTAMARTA
Konsultasikan Pendidikan Anak
………………………………
Penerimaan Siswa / Peserta Didik Baru 2026 / 2027
Sekolah Kristen TIRTAMARTA Penabur
Toddler, TK, SD, SMP, SMA
Pondok Indah & Cinere, Jakarta Selatan & Depok






