Anak Sulit Fokus Belajar? 7 Hal yang Perlu Orang Tua Perhatikan Sebelum Menyalahkan Gadget

Anak sulit fokus belajar sering kali membuat orang tua bertanya-tanya. Baru beberapa menit duduk mengerjakan tugas, tangannya mulai mencari ponsel. Satu soal belum selesai, perhatiannya sudah berpindah ke suara di luar kamar. Ketika diingatkan, jawabannya mungkin sederhana: “Aku nggak bisa fokus.”

Dalam situasi seperti ini, gadget mudah menjadi tersangka pertama.

Baca juga:
Abu Vulkanik Anak Krakatau: 7 Cara Melindungi Anak

Memang, penggunaan media digital yang berlebihan dapat berkaitan dengan berbagai aspek perkembangan anak. Namun, kebijakan terbaru American Academy of Pediatrics (AAP) pada 2026 juga mengingatkan bahwa hubungan anak dengan dunia digital tidak cukup dilihat hanya dari berapa lama ia menatap layar. Jenis konten, desain platform, kondisi anak, keluarga, lingkungan, tidur, serta aktivitas lain yang tergeser ikut berperan. Sebagian besar penelitian di bidang ini juga menunjukkan hubungan atau asosiasi, bukan berarti gadget selalu menjadi satu-satunya penyebab kesulitan fokus.

Karena itu, mungkin pertanyaan yang lebih membantu bukan langsung, “Bagaimana supaya anak berhenti main gadget?”, melainkan:

“Apa yang sedang membuat anak sulit hadir sepenuhnya dalam proses belajarnya?”

Berikut tujuh hal yang dapat menjadi bahan pengamatan dan percakapan bersama anak.

1. Apakah Anak Mendapat Tidur yang Cukup?

Sebelum membahas motivasi belajar, coba perhatikan hal yang sangat mendasar: tidurnya.

Kurang tidur dapat membuat anak terlihat lesu, mudah tersinggung, sulit mempertahankan perhatian, atau membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan tugas. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyebut tidur yang cukup membantu siswa tetap fokus, meningkatkan konsentrasi, dan mendukung performa akademik. Anak dan remaja yang kurang tidur juga lebih mungkin mengalami masalah perhatian dan perilaku.

Baca juga:
Jadwal Anak Terlalu Padat? 7 Tanda Anak Butuh Ruang untuk Bertumbuh

Sebagai rujukan umum, American Academy of Sleep Medicine merekomendasikan sekitar 9–12 jam tidur per 24 jam untuk anak usia 6–12 tahun, sedangkan remaja usia 13–18 tahun sekitar 8–10 jam. Kebutuhan setiap anak tentu dapat berbeda.

Daripada langsung mengatakan, “Kamu memang tidak bisa fokus,” orang tua dapat mulai dengan melihat pola beberapa hari terakhir.

Toddler TK SD SMP SMA SEKOLAH KRISTEN TIRTAMARTA BPK PENABUR JAKARTA DEPOK Setiap Anak Dilihat. Setiap Potensi Ditumbuhkan. Dari TK hingga SMA, setiap anak diterima sejak awal, bertumbuh dalam rasa ingin tahu, menemukan arah di masa remaja, lalu dipersiapkan untuk memimpin dan berdampak.
Daftar sekarang!

Apakah anak tidur terlalu malam? Apakah ia masih memegang perangkat menjelang tidur? Apakah pagi hari selalu dimulai dengan rasa lelah?

Kadang-kadang, persoalan fokus hari ini ternyata sudah dimulai sejak malam sebelumnya.

2. Apakah Jadwal Anak Terlalu Padat?

Sekolah, les, kursus, olahraga, kegiatan organisasi, latihan lomba, tugas rumah, hingga aktivitas sosial bisa sama-sama mempunyai manfaat. Namun, banyak kegiatan yang baik tidak selalu berarti semakin baik jika anak hampir tidak mempunyai ruang untuk berhenti.

Anak yang lelah dapat terlihat seperti anak yang kehilangan motivasi. Anak yang terus berpindah dari satu kewajiban ke kewajiban berikutnya juga mungkin kesulitan memberikan perhatian penuh ketika akhirnya harus belajar.

Karena itu, pertanyaan tentang fokus sebaiknya juga disertai pertanyaan tentang ritme kehidupan anak.

Baca juga:
Prestasi Siswa SMAK TIRTAMARTA 2026: Banyak Potensi, Banyak Cara untuk Bersinar

Apakah masih ada waktu untuk bermain tanpa target? Mengobrol? Beristirahat? Melakukan sesuatu hanya karena ia menyukainya?

Topik ini juga berkaitan dengan pembahasan kami sebelumnya mengenai “Jadwal Anak Terlalu Padat? 7 Tanda Anak Butuh Ruang untuk Bertumbuh.” Bukan berarti anak tidak boleh sibuk, melainkan keluarga dapat terus mengevaluasi apakah jadwal tersebut masih membantu anak bertumbuh atau justru mulai membuatnya kewalahan.

3. Apakah Tugas Terlalu Mudah atau Justru Terlalu Sulit?

Tidak semua kehilangan fokus terjadi karena anak malas.

Bayangkan harus mengerjakan sesuatu yang jawabannya sudah terlalu mudah ditebak. Kebosanan dapat muncul.

Sebaliknya, bayangkan menghadapi tugas yang terasa begitu sulit sampai kita tidak tahu harus memulai dari mana. Menghindar pun terasa lebih nyaman.

Hal serupa dapat terjadi pada anak.

Ketika kegiatan belajar terlalu sederhana, rasa ingin tahu bisa berkurang. Tetapi ketika tantangannya terlalu jauh dari kesiapan anak, ia juga dapat kehilangan kepercayaan diri dan mulai mencari jalan keluar dari situasi tersebut.

Baca juga:
SPECTACULAR 2026: Talenta Siswa TIRTAMARTA Bertumbuh Menjadi Dampak

Di sinilah pentingnya melihat bukan hanya apakah tugas selesai, tetapi bagaimana anak mengalaminya.

Coba tanyakan: “Bagian mana yang paling bikin kamu berhenti?”

Pertanyaan kecil itu terkadang lebih membuka percakapan daripada: “Kenapa belum selesai juga?”

4. Apakah Lingkungan Belajarnya Terlalu Penuh Distraksi?

Fokus membutuhkan ruang.

Namun, ruang yang dimaksud tidak harus berupa kamar belajar sempurna dengan meja mahal dan suasana sepenuhnya sunyi.

Kadang-kadang, perubahan kecil sudah membantu.

Televisi yang terus menyala, notifikasi ponsel, beberapa aplikasi terbuka sekaligus, percakapan orang di sekeliling, atau keinginan berpindah-pindah antara tugas dan hiburan dapat membuat perhatian terus terpecah.

Harvard Center on the Developing Child menjelaskan bahwa keterampilan fungsi eksekutif membantu seseorang mengatur informasi, memusatkan perhatian, berpindah tugas, merencanakan, dan mengambil keputusan. Keterampilan tersebut berkembang melalui pengalaman dan lingkungan yang mendukung; anak tidak sekadar “lahir sudah bisa fokus” dalam segala situasi.

Baca juga:
Fondasi Kesiapan Anak TK: 7 Bekal Selain Calistung

Karena itu, daripada menuntut anak menjadi kebal terhadap semua distraksi, keluarga dapat mencoba mengurangi satu atau dua gangguan terbesar terlebih dahulu.

Misalnya, menyimpan ponsel sedikit lebih jauh selama 20 menit pertama belajar atau menutup tab yang tidak diperlukan.

Tujuannya bukan menciptakan kondisi sempurna, melainkan membantu anak mengenali kondisi seperti apa yang membuat dirinya lebih mudah berkonsentrasi.

5. Apakah Ada Sesuatu yang Sedang Membebani Pikirannya?

Ada kalanya meja belajar bukan masalahnya.

Yang penuh justru pikirannya.

Mungkin ada konflik dengan teman. Kekhawatiran tentang nilai. Perasaan tidak percaya diri. Ketegangan menjelang ujian. Sesuatu yang terjadi di sekolah. Atau persoalan lain yang bagi orang dewasa terlihat kecil tetapi terasa besar bagi anak.

Toddler TK SD SMP SMA SEKOLAH KRISTEN TIRTAMARTA BPK PENABUR JAKARTA DEPOK Setiap Anak Dilihat. Setiap Potensi Ditumbuhkan. Dari TK hingga SMA, setiap anak diterima sejak awal, bertumbuh dalam rasa ingin tahu, menemukan arah di masa remaja, lalu dipersiapkan untuk memimpin dan berdampak.
Kenali Tirtamarta lebih dekat

UNICEF Indonesia menjelaskan bahwa stres pada anak dapat muncul dalam berbagai bentuk, termasuk mudah marah, menarik diri, terganggunya tidur, berkurangnya efisiensi dalam menjalankan tugas, hingga kesulitan berkonsentrasi. UNICEF juga mendorong orang tua membantu anak mengenali pemicu stres dan pola reaksinya.

Karena itu, saat anak berulang kali tidak fokus, mungkin ada saatnya buku ditutup sebentar dan percakapan dibuka.

Baca juga:
Memilih SMP untuk Anak: 3 Bekal Penting di Masa Remaja

Bukan dengan interogasi panjang.

Bisa sesederhana: “Belakangan ini ada sesuatu yang terus kepikiran?”

Anak mungkin tidak langsung menjawab. Namun, mengetahui bahwa ada orang dewasa yang bersedia mendengar tanpa buru-buru menilai juga penting.

6. Bagaimana Hubungan Anak dengan Gadget dan Stimulus Digital?

Gadget tetap perlu dibicarakan—tetapi sebaiknya dengan cara yang lebih utuh.

Kebijakan AAP terbaru menyebut bahwa pada anak usia sekolah, penggunaan media digital yang berlebihan berasosiasi dengan pencapaian akademik yang lebih rendah dan kontrol perhatian yang lebih lemah. Teknologi digital juga dapat mengganggu durasi maupun kualitas tidur. Di sisi lain, media digital berkualitas yang dirancang dengan tujuan belajar dapat mendukung pembelajaran tertentu.

Jadi, persoalannya bukan sesederhana: layar = buruk.

AAP bahkan menyoroti bagaimana beberapa platform sengaja menggunakan fitur seperti autoplay, endless scroll, rekomendasi algoritmik, reward, dan notifikasi untuk memperpanjang keterlibatan pengguna. Fitur semacam ini memang dapat membuat proses berhenti terasa lebih sulit.

Maka percakapan dengan anak bisa berubah dari: “Kamu kebanyakan main HP!” menjadi: “Menurut kamu, bagian apa dari aplikasi ini yang bikin susah berhenti?”

Baca juga:
Adaptasi Anak Masuk TK: 7 Cara Saat Anak Menangis

Pertanyaan tersebut mengajak anak memahami kebiasaan digitalnya sendiri.

Orang tua kemudian dapat mencoba kesepakatan yang realistis: mematikan notifikasi ketika belajar, menentukan waktu tanpa perangkat, menghindari hiburan digital saat mengerjakan tugas, atau menempatkan perangkat di luar jangkauan untuk periode tertentu.

AAP juga menekankan pentingnya pendekatan keluarga dan komunikasi yang terbuka, bukan sekadar aturan angka yang sama untuk setiap anak.

7. Apakah Anak Memahami Mengapa Ia Sedang Belajar?

Ada perbedaan antara: “Saya harus menyelesaikan tugas ini.” dan: “Saya ingin tahu bagaimana ini bekerja.”

Keduanya mungkin sama-sama menghasilkan pekerjaan yang selesai, tetapi pengalaman belajarnya berbeda.

Anak dapat lebih terlibat ketika pembelajaran mempunyai konteks, tantangan, kesempatan bertanya, atau hasil yang bisa ia lihat. Karena itu, fokus belajar bukan hanya soal menghilangkan gangguan; ada pula pertanyaan tentang keterlibatan.

Baca juga:
Prestasi Siswa TK TIRTAMARTA Cinere: 2 Penghargaan IYAEO

Bisakah materi dikaitkan dengan kehidupan nyata?

Bisakah anak mencoba sesuatu?

Bisakah ia membuat, menguji, berdiskusi, atau menjelaskan kembali dengan bahasanya sendiri?

Bahkan pertanyaan sederhana seperti: “Menurut kamu, bagian yang paling menarik dari pelajaran ini apa?” dapat membantu orang tua mengetahui apakah anak hanya sedang mengejar penyelesaian tugas atau benar-benar membangun hubungan dengan proses belajarnya.

Membantu Anak Fokus Bukan Sekadar Membuatnya Duduk Lebih Lama

Kemampuan mempertahankan perhatian, mengelola distraksi, merencanakan pekerjaan, dan menyelesaikan tugas berkembang seiring waktu. Karena itu, mungkin ukuran keberhasilan belajar tidak selalu harus berupa: “Anak bisa duduk satu jam tanpa bergerak.”

Pada situasi tertentu, belajar efektif justru dapat terjadi melalui diskusi, proyek, eksplorasi, praktik, eksperimen, presentasi, atau proses membuat sesuatu.

Yang penting adalah anak secara perlahan belajar mengenali dirinya:

  • Kapan saya paling siap belajar?
  • Apa yang membuat saya terdistraksi?
  • Apa yang harus saya lakukan ketika menemui kesulitan?
  • Kapan saya membutuhkan bantuan?

Kemampuan-kemampuan seperti inilah yang pada akhirnya membantu anak menjadi pembelajar yang semakin mandiri.

Baca juga:
Karya Kreatif Siswa SMP: 1 Bulan Menuju Apresiasi

Melihat Anak Lebih Utuh dalam Proses Belajar

Di Sekolah Kristen TIRTAMARTA – BPK PENABUR, proses pendidikan tidak dipandang hanya sebagai penyampaian materi akademik. Anak juga membutuhkan ruang untuk mengembangkan karakter, rasa ingin tahu, kemampuan bekerja bersama, mengambil keputusan, mencoba, serta bertanggung jawab terhadap prosesnya.

Pada berbagai jenjang, pengalaman belajar dapat hadir melalui diskusi, project based learning, kegiatan STEAM/LSTEAM, eksplorasi, kegiatan karakter, maupun pengalaman lain yang memberi kesempatan kepada siswa untuk terlibat aktif sesuai konteks pembelajarannya.

Pendekatan seperti ini bukan berarti seorang anak akan selalu fokus atau tidak pernah menemui kesulitan. Justru proses pendidikan juga mencakup kesempatan untuk belajar mengenali tantangan, menerima pendampingan, mencoba kembali, dan bertumbuh dari pengalaman tersebut.

Hal ini sejalan dengan semangat TIRTAMARTA – BPK PENABUR:

Setiap Anak Dilihat. Setiap Potensi Ditumbuhkan.

Karena kebutuhan, cara belajar, kekuatan, maupun tantangan seorang anak tidak selalu sama dengan anak lainnya.

Toddler TK SD SMP SMA SEKOLAH KRISTEN TIRTAMARTA BPK PENABUR JAKARTA DEPOK Setiap Anak Dilihat. Setiap Potensi Ditumbuhkan. Dari TK hingga SMA, setiap anak diterima sejak awal, bertumbuh dalam rasa ingin tahu, menemukan arah di masa remaja, lalu dipersiapkan untuk memimpin dan berdampak.
Kenali lebih dekat!

Jadi, Apakah Gadget Penyebab Anak Sulit Fokus Belajar?

Bisa menjadi salah satu faktor.

Tetapi belum tentu satu-satunya.

Tidur, kelelahan, jadwal, tingkat kesulitan tugas, lingkungan, kondisi emosional, desain teknologi, dan seberapa bermakna pengalaman belajar bagi anak juga layak diperhatikan.

Karena itu, ketika anak sulit fokus belajar, mungkin kita tidak harus selalu memulai dengan mencari siapa atau apa yang harus disalahkan.

Kita dapat memulainya dengan rasa ingin tahu:

“Apa yang sedang terjadi?”

“Apa yang kamu rasakan?”

“Bagian mana yang terasa sulit?”

“Apa yang kira-kira bisa kita coba berbeda?”

Jawabannya mungkin tidak langsung ditemukan dalam satu percakapan. Setiap keluarga pun bisa mempunyai pengalaman yang berbeda.

Baca juga:
AI untuk Belajar Anak: 7 Batas Sehat agar Tetap Berpikir Mandiri

Dan kami juga ingin mendengar perspektif Anda: ketika anak sulit fokus belajar, apa yang paling sering Anda temukan—kelelahan, jadwal yang terlalu penuh, gadget, lingkungan, atau justru hal lain?

Lingkungan Belajar Juga Layak Menjadi Bagian dari Pertimbangan

Jika saat ini Bapak/Ibu sedang mempertimbangkan lingkungan pendidikan berikutnya untuk anak, Anda dapat mengenal lebih dekat Sekolah Kristen TIRTAMARTA – BPK PENABUR Pondok Indah dan Cinere, mulai dari TK, SD, SMP hingga SMA.

Kenali program pembelajaran, pendidikan karakter, kegiatan siswa, serta lingkungan sekolah yang mendukung setiap anak untuk terus bertumbuh.

📲 WhatsApp Admin PSB: tirtamarta.sch.id/linkhub

Beri anak Anda tempat yang tepat untuk tumbuh menjadi pemimpin masa depan.

………………………………

Penerimaan Siswa / Peserta Didik Baru 2027 / 2028

Sekolah Kristen TIRTAMARTA Penabur

Toddler, TK, SD, SMP, SMA

Pondok Indah & Cinere, Jakarta Selatan & Depok

Anak SMP KRISTEN TIRTAMARTA BPK PENABUR JAKARTA DEPOK menggunakan AI untuk belajar sambil tetap mengembangkan kemampuan berpikir mandiri Toddler TK SD SMP SMA SEKOLAH KRISTEN TIRTAMARTA BPK PENABUR JAKARTA DEPOK Setiap Anak Dilihat. Setiap Potensi Ditumbuhkan. Dari TK hingga SMA, setiap anak diterima sejak awal, bertumbuh dalam rasa ingin tahu, menemukan arah di masa remaja, lalu dipersiapkan untuk memimpin dan berdampak.
Setiap Anak Dilihat. Setiap Potensi Ditumbuhkan. Dari TK hingga SMA, setiap anak diterima sejak awal, bertumbuh dalam rasa ingin tahu, menemukan arah di masa remaja, lalu dipersiapkan untuk memimpin dan berdampak.

Baca Artikel lainnya:

Hanya Hari Ini! GRATIS!

Dapatkan Informasi List Uang Sekolah (SPP)

Tahun Pelajaran 2027 / 2028 
Dapatkan pemberitahuan tentang artikel baru.